----------------------------------------------------------
“Harina Meidina. What’s going on with you?
Kamu sudah baikan kan?” suara Gina adalah suara pertama yang kudengar ketika
baru saja siuman.
Aku masih merasa lemas.
“Ini dimana?” tanya ku, sambil memegangi
kepalaku.
“Di UKS. Sudah baikan kan?” Gina malah menanyaiku balik,
“Kepalaku sakit sekali tadi. Nggak tau
kenapa. Eh, sudah pulang sekolah kan?!” tiba-tiba saja aku teringat dengan
janji Jo tadi.
“Iya, sudah pulang sekolah. Lo disini dulu
sampai baikan”,
“Jo! Dia pasti menunggu di gerbang! Gue
duluan,thanks ya!” ujar ku, lalu berusaha bangun, dan bergegas ke kelas
mengambil tas.
Aku berlari secepat mungkin, berusaha
menahan kepala ku yang sebenarnya masih sakit.
Untung saja, Jo masih berada disana,
terlihat mengobrol dengan seorang wanita. Dan aku kenal wanita itu, Tasya,
Wakil Ketua Osis. Namun, ketika ia melihatku mendekat sepertinya ia segera
berpamitan dgn Jo dan pergi.
“Jo!” panggilku ngos-ngosan. Entah
bagaimana tampang ku sekarang.
“Harin! Darimana saja? Kenapa wajah mu pucat sekali?” ujar nya
khawatir, lalu memegangi bahu ku, berusaha menahan agar tidak terjadi apa-apa.
“Maaf ya, nggak apa2 kok. Ayo pulang,Jo”
ajak ku,
“Iya, tunggu disini, mobil ku parkir
disana” ia pun berjalan menjauh menuju tempat parkir.
Saat mobil yang kami kendarai baru saja
melaju, Jo menanyakan sesuatu,
“Kita nggak langsung pulang,ya. Aku ingin
mengajakmu ke suatu tempat”,
Aku tersenyum.“Mungkinkah? Ini saatnya dia
menyatakan perasaannya padaku?” Ucap ku dalam hati, senyum sendiri seperti
orang yng sedang berbungaa-bunga.
Mobil pun berhenti di sebuah tempat dekat
danau buatan yang cukup terawatt,indah dan sejuk.
Kami turun dari mobil dan berjalan bersama.
Aku melihat sekeliling tempat ini.
Oh Tuhan. Betapa Indah nya danau ini.
Bentangan air yang sangat luas bagaikan cermin langit. Dikelilingi pepohonan hijau.
Langit yang biru dengan burung yang sesekali berterbangan.
Aku memejamkan mata sejenak dan menghirup
napas. Sangat sejuk dan nyaman disini.
“Danau ini indah sekali,” ujarku,
“Nah, kalau kamu lagi stress sama Tugas
Sekolah, Ujian, dan sebagainya, kesini saja menenangkan diri, kalau perlu
berteriak lah sekeras mungkin untuk melepas penat mu,jangan ragu” ucapnya.
Untuk kesekian kalinya aku tersenyum. Lalu
kami duduk di sebuah kursi kayu panjang yang ada di pinggir danau.
“ Masih ada ya tempat se damai ini? Dan
darimana kamu tau? Kenapa kamu tidak memberitahuku dari awal,Jo?” aku
menatapnya,
“Seseorang yang membawaku kesini,
dan……….awalnya aku kira kamu tidak tertarik dengan tempat begini”,
“Tempat se-indah ini? Siapa yang tidak tertarik?”
aku berbalik kembali menghadap danau.
Terlihat sepasang burung pipit di ranting
pohon. Mereka terlihat saling berkicauan. Kemudian, tak lama terbang entah
kemana. Dan tiba-tiba saja, penglihatanku mulai tidak stabil lagi. Kepalaku
kembali terasa pusing. Aku menundukkan kepala, berusaha menahannya.
“Ada apa,Harin? Kamu tidak apa-apa?” Jo
kembali khawatir, dan aku bisa merasakan lengan nya melingkar di bahu ku.
YA! Dia merangkulku. Dan……itu sangat
nyaman.
“It’s okay. Cuma pusing saja.” Elak ku.
Namun tak ingin lepas dari rangkulannya..
Disini. Duduk berdua dengan Jo, di pinggir
danau yang luas terbentang di tempat sejuk dan se-nyaman seperti ini membuatku
tidak ingin semua ini berlalu. Rasanya tidak rela kalau ini berakhir.
Sekarang. Jarak ku dengan Jo terasa begitu
dekat.
Dan entah kenapa jantung ku ikut berdebar
kencang. Napas ku pun sedikit tercekat.
“Harin…….” Ujar nya, dan ketika ia
memanggilku, suasana berubah jd tegang.
Aku terdiam. Namun sebenarnya aku menunggu
ia melanjutkan perkataannya itu.
Tapi………….tiba-tiba saja wajah Jo menjadi
kabur, ya, penglihatanku kabur lagi, kepalaku terasa sangat pusing lagi. Sakit
sekali. Aku tidak mampu lagi menahannya. Dan…..kembali gelap.
---------------------------------------------------------------------------------------------
Perlahan
aku membuka mata.
Dan mengernyitkan dahi. “Kak Raffi?” aku
heran sambil sedikit menyipitkan mataku, memastikan kalau aku tidak mimpi,
“Nggak usah heran,Harin. Kamu ada di rumah
sekarang. Jo yang bawa kamu kesini. Katanya, kamu pingsan dan pucat sekali. Ada
apa?” ia menyerbu ku dengan berbagai pertanyaan,
“Nggak tau juga,kak. Jo mana?”,
“Dia sudah pulang barusan, menunggu
seseorang sadar selama 3 jam itu jenuh kali,” kak Raffi masih terlihat sama,
jutek.
Aku menghela napas. “Kak, kepalaku sakit sekali.
Ayah Bunda kapan pulang?”,
“I don’t know. Maybe, tomorrow, or the day
after tomorrow, or next week. Well, I don’t really care,Harin. Ada atau tidak
ada mereka di rumah sama saja. Sepi, seperti nggak ada orang, mereka sibuk
dengan urusan mereka sendiri” keluh kak Raffi panjang lebar memasang wajah
tidak peduli nya.
Aku semakin tidak bersemangat, “apalagi
ditambah dengan adik seperti Harin yang suka menyusahkan kakak,” ujar ku sambil
tertunduk,
Kak Raffi menatapku tak peduli, “Sudahlah,
kalau butuh apa-apa, aku ada di ruang tamu” dan ia pun pergi.
Aku terus memegangi kepalaku. Masih sakit.
Badanku pun masih lemas.
Aku menarik selimut menutupi tubuh ku. Dan
tidak lama kembali tertidur lelap.
---------------------------------------------------------------------
“Untuk hari ini, kamu nggak usah sekolah
dulu. Sepertinya kamu demam. Aku pergi dulu,” kak Raffi pamit setelah kami
sarapan roti bersama, bergegas menaiki motor nya dan pergi.
Sementara aku dengan kepala yang masih
sakit, dan badan yang lemas hanya melambaikan tangan ke arahnya. Aku pun
kembali ke kamar. Rasanya tidak ingin melakukan apa-apa. Bukan, tidak bisa
melakukan apa-apa.
Baru saja aku berbaring di tempat tidur,
tiba-tiba aku merasa sesuatu yg aneh dari keluar dari hidungku.
“Darah?!”,
Aku kaget dan panik dan bergegas ke kamar
mandi dan cepat-cepat mencuci darah yang tadi mengalir dari hidungku.
“Aku ini demam atau apa sih?! Ayah Bunda
juga kenapa belum pulang! Tuhan…” omel ku diri sendiri di depan cermin dengan
wajah kesal.
Pikiranku kembali menerawang , sewaktu Jo
mengajakku ke danau kemarin sepulang sekolah.
“Andai saja aku tidak pingsan kemarin…Pasti
saat2 yang kutunggu akan terjadi. AH! Harin bodoh! Kenapa pakai sakit sih?!”Dan
tanpa sadar aku memukul-mukul kepala ku sendiri.
Ya, aku sangat bodoh. Aku yakin Jo akan
mengucapkan sesuatu yg sgt penting, dan juga mungkin...sesuatu yg kutunggu.
Namun aku kembali tersadar dan menghadap ke
cermin, Ada yang aneh dengan wajahku, terlihat seperti tengkorak, kurus dan
pucat. Rambutku pun terasa menipis karena terus menerus rontok. Baru kemarin
siang aku pingsan dan merasakan sakit, kenapa efek nya berlebihan begini?
Memang nya kalau demam, efek nya akan separah ini? Seumur-umur, aku jarang
sekali mengalami mimisan seperti ini. Beribu pertanyaan muncul di kepalaku.
Beribu pikiran negative pun sempat singgah
di fikiranku.
“Oh God. Apa
yang kamu fikir,Harin? Okay, ini berlebihan” fikirku dan mencoba berhenti
NEGATIVE THINKING lalu segera mencuci muka agar terasa lebih segar dan kembali
ke kamar.
----------------------------------
“Harinaaaaa! Udah baikan,kan?!” teriakan
menggelegar Gina terdengar di seluruh penjuru kelas,
“Iya, gue udah sembuh kok! Tenang aja,”,
Namun ia mendekatkan wajah nya ke wajahku
lalu mengamati ku dari ujung kepala sampai ujung kaki seperti menatap seorang
buronan yang sedang diinvestigasi kemudian mengernyitkan dahi nya.
“Kenapa lo kelihatan tambah kurus? Rambut
lo juga menipis,” ia heran,
Aku sempat terdiam namun tetap berusaha
Positive Thinking,
“Mungkin, Tugas dan ujian segudang yang
bikin gue kurus begini. Dan….. Rambut rontok.....sudah biasa,”,
Ia hanya diam dan mengangguk-ngangguk tanpa
tahu kalau aku berbohong.
Baru saja aku duduk, si Ketua Kelas,Ovi
daatang dan duduk tepat di depan bangku ku.
Lalu memasang wajah sok tau nya.
“Harin, katanya 2 hari yang lalu, lo
diantar pulang ya sama Ketua Osis itu? Jangan-jangan, lo udah pacaran? Wah”,
Ya Tuhan. Ia mengingatkanku lagi. Lagipula,
Jo tidak akan mengajakku untuk kedua kalinya lagi. Dan...pacaran? Dia
mengungkapkan apa yang dirasakannya padaku saja belum sama sekali.
Dan, oh ya,apa urusannya Ovy dengan
hubunganku& Jo? Aku baru saja baikan dari penyakit ku, dan dia datang
menanyakan hal yang seharusnya tidak dia tanyakan. Dasar.
“Diantar pulang iya, pacaran?nggak” jawabku
datar apa adanya, dan tanpa berbohong,
“Oh iya! Lo udah ditembak kan sama Jo terus
lo terima????Jujur deh,Rin!” Gina malah ikut-ikutan,
“Nggak. Gue sama dia nggak pacaran,”,
"Oh. Kirain. Well, Jo juga lebih cocok
sama si Tasya. Hahaha..." Aku tidak tau ucapannya itu semacam
gurauan/ejekan dsb.tapi ucapan Ovy membuatku SEDIKIT tersinggung.
“Dasar….” aku ngedumel dalam hati dan
mencoba sabar saja.
Waktu isitirahat tiba.
Di kantin, aku sempat bertemu Jo.
Ralat,aku yang melihatnya dan mungkin atau
memang dia tak melihatku. Ya, dia sibuk ngobrol dengan Tasya. Aku ingin
memanggilnya, namun keakraban mereka membuat nyali ku ciut. Jujur, Jo dan Tasya
terlihat sangat akrab. Aku tau pasti karena hubungan mereka sebagai ketua dan
wakil ketua osis. Sejujurnya, pasti banyak orang yang berpendapat kalau mereka
sangat serasi. Memang, kalau dilihat seperti ini, mereka lebih mirip pasangan.
Dan kau tau rasanya ketika melihat cowok
yang kau suka lebih terlihat serasi dan akrab dengan cewek lain?
“Kepada Panitia PENSI diharapkan agar
segera ke Aula untuk Technical Meeting Persiapan H-5 Pentas Seni SMA Global
Bangsa. Terima Kasih,” mendengar pengumuman itu, aku langsung berbelok ke Aula
sebelum pulang.
Pentas Seni SMA Global Bangsa hanya
dilaksanakan sekali dalam setahun. Biasanya, di Pensi kami mengusung berbagai
tema. Menampilkan berbagai band sekolah maupun mendatangkan artis ibukota,
pameran lukisan, Lomba Penyanyi Solo, Drama Musikal dan lainnya. Dan aku salah
satu dari panitianya.
“Begini Guys, gue mau sesuatu yang berbeda
di Pensi ini dari tahun-tahun sebelumnya. Gue punya calon nama artis ibukota
yang bakal membuat anak Global Bangsa terkejut. And, You Know who?” Oji si
Ketua Panitia memulai diskusi.
“Siapa?” salah satu panitia balik bertanya,
aku penasaran, mereka pun penasaran,
“David Tjandra. Penyanyi solo terkenal
dengan segudang penghargaan dan berpuluh album yang sukses dan meledak di pasar musik Indonesia. They’ll must be surprised! Gimana?”,
David Tjandra? Waw. Aku tak yakin bisa
mengundang artis se-populer dia.
“Hah? David Tjandra? Oji, Akan susah untuk
mengundang dia dengan jadwal nya yang super padat. I’m not sure,” ujar ku,
“Ayolah,Guys. Kita pasti bisa! Pokoknya
buat acara ini menjadi Unforgettable!” ucap Oji dengan wajah berseri-seri,
“Okay, apa salahnya mencoba? Pokoknya semua
harus beres sebelum Pensi nya berlangsung” tambah Vivian, Wakil Ketua Panitia,
Setelah semuanya sudah Fix, Technical
Meeting pun selesai setelah berlangsung selama 1 jam lamanya.
Dan sialnya, aku tidak melihat Jo. Padahal
dia juga salah satu panitia Pensi. Damn it. Where is he?
----------------------------------------
Ketika baru saja aku memasuki halaman, aku
melihat sebuah mobil Fortuner Silver parkir.
“Ayah Bunda pulang! Yey!” ujarku girang,
Di ruang tamu, ayah bunda duduk dan
terlihat ngobrol dengan…..Kak Raffi?!
Aku heran. Kok tumben kak Raffi di rumah
dan mau ngobrol dengan ayah bunda? Biasanya kan, dia lebih betah di rumah
temannya daripada menunggu dan menyambut ayah bunda pulang. Sudahlah, tak usah
difikirkan.
“Ayah! Bunda!” teriakku, sambil memeluk
erat mereka.
“Kenapa kalian lama sekali?” tanyaku sambil
duduk di samping Bunda,
“Klien kita di Surabaya sepertinya sangat
Respect dengan Proyek ini,nak. Jadi kami memperpanjang waktu di sana. Lagipula,
kamu dan Raffi kan sudah bisa menjaga diri sendiri” jawab Bunda,
“Tapi kan bunda…..Harin juga mau liburan
atau hang out bareng kalian! Oh ya, ada waterpark baru loh barusan buka, aku
juga …..” belum saja aku melanjutkan kata-kata ku, tiba-tiba ,
“Harina?! Hidung mu berdarah nak…..” ayah
dan bunda memotong pembicaraanku, mereka terlihat sangat kaget dan panik,
Aku yang ikut kaget segera mengambil tissue
di meja tepat didepanku dan cepat-cepat mengelap nya. Aku berusaha untuk tidak
panik.
“Astaga nak, kamu mimisan? Kenapa bisa?”
bunda terlihat khawatir dan segera membantu ku mengelap darah yang keluar dari
hidungku,
“Ah? Eng… gak kok Bunda, ini Harin Cuma
capek mungkin, kalian nggak usah panik,” ujar ku,
“Raffi! Jelaskan penyebab ini! Selama ini
adikmu jarang mengalami mimisan! Kamu ayah tugaskan untuk menjaga Harin, kenapa
bisa?!” nada suara Ayah mulai meninggi,
“Hah? Aku nggak tau apa-apa. Dia Cuma capek
kali,Yah. Biasa aja,” jawab Kak Raffi, seperti biasa, Cuek dan tak peduli,
“Nggak apa-apa katamu? Ya Tuhan kakak macam
apa kau ini!” ayah terlihat mulai marah,
Kak Raffi yang merasa tidak tau apa-apa pun
juga mulai kesal, dan suasana berubah drastic menjadi tegang.
“Hey! Ayah Cuma bisa menyalahkan aku!
Seharusnya kalian yang merasa bersalah! Anak
kalian sakit seperti ini 1 hari yg lalu, kalian dimana? Mana pernah kalian menelpon menanyakan kabar
kami?! Kalian Cuma sibuk dengan proyek milyaran kalian itu! Halah” suara kak
Raffi yang cukup tinggi membuat ayah terlihat sangat emosi, ia berdiri dan
nyaris saja mendaratkan pukulan di pipi kak Raffi.
Dan tanpa sadar, air mata mengalir deras di
pipiku. Bunda hanya diam tak mau ikut campur.
“Ayah, kak Raffi kumohon jangan
bertengkar…..” isak ku pelan, mengelap air mata yang berjatuhan,
Namun kak Raffi bergegas menuju kamar nya
dan membanting pintu, sementara aku tak bisa berhenti menangis. Entah apa yang
kutangisi.
“Kamu masuk kamar sana,Rin” bunda pun
menyuruh ku masuk kamar.
Di kamar, air mata ku terus mengalir,
“Kak Raffi….. pasti dia sangat marah…gara2
aku mimisan, jadi dia yang disalahkan….astaga…” ujar ku terbata-bata, namun
untuk kesekian kalinya mataku kembali berkunang-kunang, rasa sakit itu muncul
lagi, karna sudah tidak tahan aku segera menarik selimut dan berusaha membuat
diriku tertidur.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar