Jumat, 26 Oktober 2012

A Story From Me ( Part 2 )



----------------------------------------------------------

“Harina Meidina. What’s going on with you? Kamu sudah baikan kan?” suara Gina adalah suara pertama yang kudengar ketika baru saja siuman.
Aku masih merasa lemas.
“Ini dimana?” tanya ku, sambil memegangi kepalaku.
“Di UKS. Sudah baikan kan?”  Gina malah menanyaiku balik,
“Kepalaku sakit sekali tadi. Nggak tau kenapa. Eh, sudah pulang sekolah kan?!” tiba-tiba saja aku teringat dengan janji Jo tadi.
“Iya, sudah pulang sekolah. Lo disini dulu sampai baikan”,
“Jo! Dia pasti menunggu di gerbang! Gue duluan,thanks ya!” ujar ku, lalu berusaha bangun, dan bergegas ke kelas mengambil tas.
Aku berlari secepat mungkin, berusaha menahan kepala ku yang sebenarnya masih sakit.
Untung saja, Jo masih berada disana, terlihat mengobrol dengan seorang wanita. Dan aku kenal wanita itu, Tasya, Wakil Ketua Osis. Namun, ketika ia melihatku mendekat sepertinya ia segera berpamitan dgn Jo dan pergi.
“Jo!” panggilku ngos-ngosan. Entah bagaimana tampang ku sekarang.
“Harin! Darimana saja?  Kenapa wajah mu pucat sekali?” ujar nya khawatir, lalu memegangi bahu ku, berusaha menahan agar tidak terjadi apa-apa.
“Maaf ya, nggak apa2 kok. Ayo pulang,Jo” ajak ku,
“Iya, tunggu disini, mobil ku parkir disana” ia pun berjalan menjauh menuju tempat parkir.

Saat mobil yang kami kendarai baru saja melaju, Jo menanyakan sesuatu,
“Kita nggak langsung pulang,ya. Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat”,
Aku tersenyum.“Mungkinkah? Ini saatnya dia menyatakan perasaannya padaku?” Ucap ku dalam hati, senyum sendiri seperti orang yng sedang berbungaa-bunga.
Mobil pun berhenti di sebuah tempat dekat danau buatan yang cukup terawatt,indah dan sejuk.
Kami turun dari mobil dan berjalan bersama.  Aku melihat sekeliling tempat ini.

Oh Tuhan. Betapa Indah nya danau ini. Bentangan air yang sangat luas bagaikan cermin langit. Dikelilingi pepohonan hijau. Langit yang biru dengan burung yang sesekali berterbangan.
Aku memejamkan mata sejenak dan menghirup napas. Sangat sejuk dan nyaman disini.
“Danau ini indah sekali,” ujarku,
“Nah, kalau kamu lagi stress sama Tugas Sekolah, Ujian, dan sebagainya, kesini saja menenangkan diri, kalau perlu berteriak lah sekeras mungkin untuk melepas penat mu,jangan ragu” ucapnya.
Untuk kesekian kalinya aku tersenyum. Lalu kami duduk di sebuah kursi kayu panjang yang ada di pinggir danau.
“ Masih ada ya tempat se damai ini? Dan darimana kamu tau? Kenapa kamu tidak memberitahuku dari awal,Jo?” aku menatapnya,
“Seseorang yang membawaku kesini, dan……….awalnya aku kira kamu tidak tertarik dengan tempat begini”,
“Tempat se-indah ini? Siapa yang tidak tertarik?” aku berbalik kembali menghadap danau.
Terlihat sepasang burung pipit di ranting pohon. Mereka terlihat saling berkicauan. Kemudian, tak lama terbang entah kemana. Dan tiba-tiba saja, penglihatanku mulai tidak stabil lagi. Kepalaku kembali terasa pusing. Aku menundukkan kepala, berusaha menahannya.
“Ada apa,Harin? Kamu tidak apa-apa?” Jo kembali khawatir, dan aku bisa merasakan lengan nya melingkar di bahu ku.
YA! Dia merangkulku. Dan……itu sangat nyaman.
“It’s okay. Cuma pusing saja.” Elak ku. Namun tak ingin lepas dari rangkulannya..
Disini. Duduk berdua dengan Jo, di pinggir danau yang luas terbentang di tempat sejuk dan se-nyaman seperti ini membuatku tidak ingin semua ini berlalu. Rasanya tidak rela kalau ini berakhir.
Sekarang. Jarak ku dengan Jo terasa begitu dekat.
Dan entah kenapa jantung ku ikut berdebar kencang. Napas ku pun sedikit tercekat.
“Harin…….” Ujar nya, dan ketika ia memanggilku, suasana berubah jd tegang.
Aku terdiam. Namun sebenarnya aku menunggu ia melanjutkan perkataannya itu.
Tapi………….tiba-tiba saja wajah Jo menjadi kabur, ya, penglihatanku kabur lagi, kepalaku terasa sangat pusing lagi. Sakit sekali. Aku tidak mampu lagi menahannya. Dan…..kembali gelap.

---------------------------------------------------------------------------------------------

Perlahan  aku membuka mata.
Dan mengernyitkan dahi. “Kak Raffi?” aku heran sambil sedikit menyipitkan mataku, memastikan kalau aku tidak mimpi,
“Nggak usah heran,Harin. Kamu ada di rumah sekarang. Jo yang bawa kamu kesini. Katanya, kamu pingsan dan pucat sekali. Ada apa?” ia menyerbu ku dengan berbagai pertanyaan,
“Nggak tau juga,kak. Jo mana?”,
“Dia sudah pulang barusan, menunggu seseorang sadar selama 3 jam itu jenuh kali,” kak Raffi masih terlihat sama, jutek.
Aku menghela napas. “Kak, kepalaku sakit sekali. Ayah Bunda kapan pulang?”,
“I don’t know. Maybe, tomorrow, or the day after tomorrow, or next week. Well, I don’t really care,Harin. Ada atau tidak ada mereka di rumah sama saja. Sepi, seperti nggak ada orang, mereka sibuk dengan urusan mereka sendiri” keluh kak Raffi panjang lebar memasang wajah tidak peduli nya.
Aku semakin tidak bersemangat, “apalagi ditambah dengan adik seperti Harin yang suka menyusahkan kakak,” ujar ku sambil tertunduk,
Kak Raffi menatapku tak peduli, “Sudahlah, kalau butuh apa-apa, aku ada di ruang tamu” dan ia pun pergi.
Aku terus memegangi kepalaku. Masih sakit. Badanku pun masih lemas.
Aku menarik selimut menutupi tubuh ku. Dan tidak lama kembali tertidur lelap.

---------------------------------------------------------------------

“Untuk hari ini, kamu nggak usah sekolah dulu. Sepertinya kamu demam. Aku pergi dulu,” kak Raffi pamit setelah kami sarapan roti bersama, bergegas menaiki motor nya dan pergi.
Sementara aku dengan kepala yang masih sakit, dan badan yang lemas hanya melambaikan tangan ke arahnya. Aku pun kembali ke kamar. Rasanya tidak ingin melakukan apa-apa. Bukan, tidak bisa melakukan apa-apa.
Baru saja aku berbaring di tempat tidur, tiba-tiba aku merasa sesuatu yg aneh dari keluar dari hidungku.
“Darah?!”,
Aku kaget dan panik dan bergegas ke kamar mandi dan cepat-cepat mencuci darah yang tadi mengalir dari hidungku.
“Aku ini demam atau apa sih?! Ayah Bunda juga kenapa belum pulang! Tuhan…” omel ku diri sendiri di depan cermin dengan wajah kesal.
Pikiranku kembali menerawang , sewaktu Jo mengajakku ke danau kemarin sepulang sekolah.
“Andai saja aku tidak pingsan kemarin…Pasti saat2 yang kutunggu akan terjadi. AH! Harin bodoh! Kenapa pakai sakit sih?!”Dan tanpa sadar aku memukul-mukul kepala ku sendiri.
Ya, aku sangat bodoh. Aku yakin Jo akan mengucapkan sesuatu yg sgt penting, dan juga mungkin...sesuatu yg kutunggu.
Namun aku kembali tersadar dan menghadap ke cermin, Ada yang aneh dengan wajahku, terlihat seperti tengkorak, kurus dan pucat. Rambutku pun terasa menipis karena terus menerus rontok. Baru kemarin siang aku pingsan dan merasakan sakit, kenapa efek nya berlebihan begini? Memang nya kalau demam, efek nya akan separah ini? Seumur-umur, aku jarang sekali mengalami mimisan seperti ini. Beribu pertanyaan muncul di kepalaku.
Beribu pikiran negative pun sempat singgah di fikiranku.
“Oh God. Apa yang kamu fikir,Harin? Okay, ini berlebihan” fikirku dan mencoba berhenti NEGATIVE THINKING lalu segera mencuci muka agar terasa lebih segar dan kembali ke kamar.
----------------------------------

“Harinaaaaa! Udah baikan,kan?!” teriakan menggelegar Gina terdengar di seluruh penjuru kelas,
“Iya, gue udah sembuh kok! Tenang aja,”,
Namun ia mendekatkan wajah nya ke wajahku lalu mengamati ku dari ujung kepala sampai ujung kaki seperti menatap seorang buronan yang sedang diinvestigasi kemudian mengernyitkan dahi nya.
“Kenapa lo kelihatan tambah kurus? Rambut lo juga menipis,” ia heran,
Aku sempat terdiam namun tetap berusaha Positive Thinking,
“Mungkin, Tugas dan ujian segudang yang bikin gue kurus begini. Dan….. Rambut rontok.....sudah biasa,”,
Ia hanya diam dan mengangguk-ngangguk tanpa tahu kalau aku berbohong.
Baru saja aku duduk, si Ketua Kelas,Ovi daatang dan duduk tepat di depan bangku ku.
Lalu memasang wajah sok tau nya.
“Harin, katanya 2 hari yang lalu, lo diantar pulang ya sama Ketua Osis itu? Jangan-jangan, lo udah pacaran? Wah”,
Ya Tuhan. Ia mengingatkanku lagi. Lagipula, Jo tidak akan mengajakku untuk kedua kalinya lagi. Dan...pacaran? Dia mengungkapkan apa yang dirasakannya padaku saja belum sama sekali.
Dan, oh ya,apa urusannya Ovy dengan hubunganku& Jo? Aku baru saja baikan dari penyakit ku, dan dia datang menanyakan hal yang seharusnya tidak dia tanyakan. Dasar.
“Diantar pulang iya, pacaran?nggak” jawabku datar apa adanya, dan tanpa berbohong,
“Oh iya! Lo udah ditembak kan sama Jo terus lo terima????Jujur deh,Rin!” Gina malah ikut-ikutan,
“Nggak. Gue sama dia nggak pacaran,”,
"Oh. Kirain. Well, Jo juga lebih cocok sama si Tasya. Hahaha..." Aku tidak tau ucapannya itu semacam gurauan/ejekan dsb.tapi ucapan Ovy membuatku SEDIKIT tersinggung.
“Dasar….” aku ngedumel dalam hati dan mencoba sabar saja.

Waktu isitirahat tiba.
Di kantin, aku sempat bertemu Jo.
Ralat,aku yang melihatnya dan mungkin atau memang dia tak melihatku. Ya, dia sibuk ngobrol dengan Tasya. Aku ingin memanggilnya, namun keakraban mereka membuat nyali ku ciut. Jujur, Jo dan Tasya terlihat sangat akrab. Aku tau pasti karena hubungan mereka sebagai ketua dan wakil ketua osis. Sejujurnya, pasti banyak orang yang berpendapat kalau mereka sangat serasi. Memang, kalau dilihat seperti ini, mereka lebih mirip pasangan.
Dan kau tau rasanya ketika melihat cowok yang kau suka lebih terlihat serasi dan akrab dengan cewek lain?

“Kepada Panitia PENSI diharapkan agar segera ke Aula untuk Technical Meeting Persiapan H-5 Pentas Seni SMA Global Bangsa. Terima Kasih,” mendengar pengumuman itu, aku langsung berbelok ke Aula sebelum pulang.
Pentas Seni SMA Global Bangsa hanya dilaksanakan sekali dalam setahun. Biasanya, di Pensi kami mengusung berbagai tema. Menampilkan berbagai band sekolah maupun mendatangkan artis ibukota, pameran lukisan, Lomba Penyanyi Solo, Drama Musikal dan lainnya. Dan aku salah satu dari panitianya.
“Begini Guys, gue mau sesuatu yang berbeda di Pensi ini dari tahun-tahun sebelumnya. Gue punya calon nama artis ibukota yang bakal membuat anak Global Bangsa terkejut. And, You Know who?” Oji si Ketua Panitia memulai diskusi.
“Siapa?” salah satu panitia balik bertanya, aku penasaran, mereka pun penasaran,
“David Tjandra. Penyanyi solo terkenal dengan segudang penghargaan dan berpuluh album yang sukses dan meledak di pasar musik Indonesia. They’ll must be surprised! Gimana?”,
David Tjandra? Waw. Aku tak yakin bisa mengundang artis se-populer dia.
“Hah? David Tjandra? Oji, Akan susah untuk mengundang dia dengan jadwal nya yang super padat. I’m not sure,” ujar ku,
“Ayolah,Guys. Kita pasti bisa! Pokoknya buat acara ini menjadi Unforgettable!” ucap Oji dengan wajah berseri-seri,
“Okay, apa salahnya mencoba? Pokoknya semua harus beres sebelum Pensi nya berlangsung” tambah Vivian, Wakil Ketua Panitia,
Setelah semuanya sudah Fix, Technical Meeting pun selesai setelah berlangsung selama 1 jam lamanya.
Dan sialnya, aku tidak melihat Jo. Padahal dia juga salah satu panitia Pensi. Damn it. Where is he?

----------------------------------------

Ketika baru saja aku memasuki halaman, aku melihat sebuah mobil Fortuner Silver parkir.
“Ayah Bunda pulang! Yey!” ujarku girang,
Di ruang tamu, ayah bunda duduk dan terlihat ngobrol dengan…..Kak Raffi?!
Aku heran. Kok tumben kak Raffi di rumah dan mau ngobrol dengan ayah bunda? Biasanya kan, dia lebih betah di rumah temannya daripada menunggu dan menyambut ayah bunda pulang. Sudahlah, tak usah difikirkan.
“Ayah! Bunda!” teriakku, sambil memeluk erat mereka.
“Kenapa kalian lama sekali?” tanyaku sambil duduk di samping Bunda,
“Klien kita di Surabaya sepertinya sangat Respect dengan Proyek ini,nak. Jadi kami memperpanjang waktu di sana. Lagipula, kamu dan Raffi kan sudah bisa menjaga diri sendiri” jawab Bunda,
“Tapi kan bunda…..Harin juga mau liburan atau hang out bareng kalian! Oh ya, ada waterpark baru loh barusan buka, aku juga …..” belum saja aku melanjutkan kata-kata ku, tiba-tiba ,
“Harina?! Hidung mu berdarah nak…..” ayah dan bunda memotong pembicaraanku, mereka terlihat  sangat kaget dan panik,
Aku yang ikut kaget segera mengambil tissue di meja tepat didepanku dan cepat-cepat mengelap nya. Aku berusaha untuk tidak panik.
“Astaga nak, kamu mimisan? Kenapa bisa?” bunda terlihat khawatir dan segera membantu ku mengelap darah yang keluar dari hidungku,
“Ah? Eng… gak kok Bunda, ini Harin Cuma capek mungkin, kalian nggak usah panik,” ujar ku,
“Raffi! Jelaskan penyebab ini! Selama ini adikmu jarang mengalami mimisan! Kamu ayah tugaskan untuk menjaga Harin, kenapa bisa?!” nada suara Ayah mulai meninggi,
“Hah? Aku nggak tau apa-apa. Dia Cuma capek kali,Yah. Biasa aja,” jawab Kak Raffi, seperti biasa, Cuek dan tak peduli,
“Nggak apa-apa katamu? Ya Tuhan kakak macam apa kau ini!” ayah terlihat mulai marah,
Kak Raffi yang merasa tidak tau apa-apa pun juga mulai kesal, dan suasana berubah drastic menjadi tegang.
“Hey! Ayah Cuma bisa menyalahkan aku! Seharusnya kalian yang merasa bersalah! Anak  kalian sakit seperti ini 1 hari yg lalu, kalian dimana?  Mana pernah kalian menelpon menanyakan kabar kami?! Kalian Cuma sibuk dengan proyek milyaran kalian itu! Halah” suara kak Raffi yang cukup tinggi membuat ayah terlihat sangat emosi, ia berdiri dan nyaris saja mendaratkan pukulan di pipi kak Raffi.
Dan tanpa sadar, air mata mengalir deras di pipiku. Bunda hanya diam tak mau ikut campur.
“Ayah, kak Raffi kumohon jangan bertengkar…..” isak ku pelan, mengelap air mata yang berjatuhan,
Namun kak Raffi bergegas menuju kamar nya dan membanting pintu, sementara aku tak bisa berhenti menangis. Entah apa yang kutangisi.
“Kamu masuk kamar sana,Rin” bunda pun menyuruh ku masuk kamar.
Di kamar, air mata ku terus mengalir,
“Kak Raffi….. pasti dia sangat marah…gara2 aku mimisan, jadi dia yang disalahkan….astaga…” ujar ku terbata-bata, namun untuk kesekian kalinya mataku kembali berkunang-kunang, rasa sakit itu muncul lagi, karna sudah tidak tahan aku segera menarik selimut dan berusaha membuat diriku tertidur.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar