Malam itu suasana di balkon rumah sangat
sepi. Sepi dari se-sepi sepinya hingga suara jangkrik pun terdengar. Ayah dan
bunda di Surabaya sejak 2 bulan lalu, Ya, urusan pekerjaan. Kak Raffi?
Entahlah, aku tak melihatnya sejak 2 hari yang lalu. Palingan di rumah
temannya. Setidaknya, disana dia bisa merasakan keramaian dan seru-seruan.
Daripada di rumah? Bersama ku yang tidak tahu bagaimana membuat kak Raffi
senang. Aku sadar, aku memang sosok adik yang membosankan. Menyebalkan. Selalu
membuatnya marah. Dan sebagainya lah.
Untuk menghilangkan suntuk, aku memasang
headset dan mulai memutar playlist favorit ku. Tiba-tiba, hp ku berdering.
Nama Jonathan muncul di layar. Aku
tersenyum. Lalu mengangkat telponnya.
“Hey. Aku gak mengganggu kan?” sapanya.
Dengan nada suara khas nya,
“Hey! Mengganggu? Maksudmu, mengganggu
jangkrik yang lagi asik bernyanyi di halaman rumahku?”jawabku (polos),
“Hahaha..Saking sepi nya ya rumah mu? Awas
loh, nanti ada yang colek dari belakang!”,
“Apaan?
Hantu? Uuuu atut nih”,
“Yaelah kamu tuh. Eh, bagaimana persiapan
kamu jadi panitia buat Pensi Sekolah nanti? Semangat ya”,
“Harus semangat dong! Kamu juga,Jo!,”
“Iya iya”
“Well, ini sudah jam 11 malam. Kamu tidur
sana.Have a nice dream” ujarku,tersenyum.
“Okay,You too,Harin”.
Pembicaraan kami pun berakhir. Well, jangan salah sangka
dulu, Jo bukan pacarku. Tepatnya, ‘belum’ menjadi pacar. Kami baru sebatas
teman dekat. Kalau anak muda sekarang menyebut nya ‘PDKT’. Sejujurnya, dia
sosok yang memenuhi kriteria-ku. Tampan, Baik, Pintar, Populer di sekolah,
Tentu saja, dia seorang ketua OSIS, dan seorang yang sangat pengertian. Oh ya,
sebenarnya aku menunggu saat dimana dia menyatakan perasaannya pada ku. Ya, aku
sangat menunggu saat itu.
Waktu menunjukkan pukul 11.30 Malam. Aku
berdiri dari kursi di balkon dan bergegas menuju kamar tidur. “Jangan sampai
telat Harin, besok sekolah” gumamku, lalu menyelimuti tubuh dan………….menuju
Dreamland.
KRIIINGGG!!!!!!!!
Bel masuk berbunyi di seluruh penjuru
sekolah ketika aku sedang berlari menuju kelas, apalagi saat aku ingat
pelajaran pertama, Math dengan Bu Lily yang Killer-nya minta ampun. Sampai di
kelas, baru saja aku duduk tenang di bangku, Bu Lily pun datang dengan wajah
nya yang menyeramkan.
“Selamat pagi anak-anak! Kemarin saya suruh
kalian mengerjakan buku paket Hal.45.Dan yang merasa tidak mengerjakan nya,
silahkan keluar dari kelas ini! TIDAK PAKAI ALASAN!” teriaknya.
Masih dengan napas terengah-engah, aku
membuka tas dan mencari buku ku. Dan, SIALNYA, buku yang ku cari tidak ada di
tas. Aku kaget dan sempat membelalakkan mata.Lalu menghela napas panjang.
Dengan wajah pasrah, aku berdiri.
“Harina Meidina. Lupa bawa buku,kan? Keluar
dari kelas ini selama pelajaran saya berlangsung!” ujarnya, dengan nada yang
malah membuatku tidak betah di kelas.
Aku berjalan perlahan menjauh dari kelas
dengan wajah pasrah. Berjalan tak tahu mau kemana.
Namun, tiba-tiba seseorang berteriak
memanggil ku dari jauh,
“Harinaaaaa”, aku berbalik dan langsung
menyadari kalau itu Gina.
“Gina? Lo keluar dari kelas juga? Nggak
kerja PR?” tanyaku, penasaran,
“Nggak. Eh, sebenarnya gue kerja kok. Cuma,
nggak betah aja di sana. Terus, gue berfikir, pasti Harin kesepian. So, gue
bohong deh,”jawabnya, aku tertawa kecil,
“Ginaaaa, Lo tuh emang paling The Best,”
langsung ku peluk erat tubuhnya yang mungil.
Kami pun ngobrol asyik sambil berjalan
menyusuri sekolah.
“Well, gimana keadaan lo sama Jo? Udah
jadian belum? PDKT nya lama banget, udah 2 minggu masa Lo belum di ‘tembak’
juga sih” tanya nya ceplas-ceplos,
Langsung saja, wajah ku berubah jadi
sedikit gemas.
“Gue sih siap. Tapi Jo nya…..gue nggak bisa
tebak pikirannya,Gina” Jawab ku apa adanya,
“Yaelah! Basa-basi banget sih si Ketua
OSIS! Woo, payah” ucapnya sambil memasang wajah menyebalkannya.
Aku menyipitkan mataku dan menatapnya
sinis. Lalu dengan sekuat tenaga ku cubit pipi nya hingga dia kesakitan. Siapa
yang tidak gemas? Huh!
“Rasain tuh. Habis, lo kalau ngomong nggak
mikir dulu, ye. Dasar” ujar ku.
Gina memasang wajah cemberutnya dan
mengelus pipinya yang merah karna cubitanku.
2 jam berlalu. Pelajaran guru killer itu
pun berakhir. Aku dan Gina bergegas kembali ke kelas.
Namun, di tengah jalan, Jo dan temannya,
Fachri, menghampiriku.
“Harin, sebentar pulang nya barengan ya?
Aku tunggu pulang sekolah depan gerbang,okay? See you” belum aku mengangguk
ataupun menjawab,dia hanya mengucapkan 1 kalimat itu lalu pergi begitu saja .
Memang sih, dia terlihat terburu-buru. Tapi, bisa tidak kalau dia menyapa ku
dulu atau apalah yang menunjukkan perhatiannya?.
Gina sempat melirikku. “Sudahlah, ayo” lalu menarik tanganku.
Ketika aku baru saja masuk kelas, aku
merasa kepala ku pusing, penglihatanku kabur. Aku terhenti dan memegangi
kepalaku, berusaha menahannya.
“Are you okay,Harin?” tanya Gina, khawatir.
Aku mengangguk lemas. Dan terus berjalan.
Namun, tak bisa dipungkiri kepala ku sakit sekali seperti ditusuk-tusuk. Karna
sudah tak tahan, aku terjatuh. Lemas. Dan pingsan.
Bersambung.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar